Ditulis oleh <a href='/komunitas.html?userid=135'>arul</a>
Harian Sindo: Kamis, 07 Januari 2010
Siswa Bebas Ikut UN atau Tidak
SURABAYA(SI) – Pemerintah memastikan tahun ini tetap menggelar Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan.Namun,SMA Muhammadiyah 2 Pucang Surabaya mengeluarkan kebijakan yang tergolong berani,yakni membebaskan siswanya memilih ikut UN atau tidak.
Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kurikulum SMA Muhammadiyah 2 Pucang Surabaya Munawir menuturkan, pihaknya secara khusus membuat surat edaran (SE) yang dibagikan kepada seluruh wali murid untuk memilih mengikuti UN atau tidak. ”UN itu kan hak siswa dan kami tidak ingin terjadi polemik berkepanjangan di sekolah antara mereka yang pro dan kontra.
Makanya kami buat SE agar wali murid membuat surat pernyataan siap mengikuti UN atau tidak. Tentu saja kami juga berikan penjelasan menyangkut konsekuensinya,” ujar Munawir kemarin. Munawir mengakui,pascapolemik UN akibat keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan gugatan masyarakat menyangkut pelaksanaan UN, terjadi kebingungan di tengah wali murid.Ada wali murid yang setuju UN tetap digelar namun ada juga wali murid yang tidak setuju adanya UN.
Setelah putusan itu, banyak gonjang-ganjing miring yang mengarah pada ketidakpercayaan terhadap pendidikan. Pihaknya tidak mau larut dalam kebingungan itu. ”SE ini kami harapkan bisa membuat solid pandangan wali murid. Jadi silahkan saja memilih sesuai dengan keyakinannya masing- masing,”ungkapnya.
Meski begitu, hingga kini belum ada satupun wali murid yang membuat surat pernyataan tidak akan mengikuti UN.”Semua masih menginginkan ikut UN. Kami juga masih menunggu kalau saja ada wali murid yang tidak ingin anaknya ikut UN,dan kami menghargai keputusan itu,”imbuhnya.
Di sisi lain,pihak sekolah sendiri tetap bersiap diri menyongsong pelaksanaan UN.Munawir mengaku, pihaknya tetap memberikan bimbingan khusus bagi siswa menyangkut persiapan UN. ”Kami tetap memberikan uji coba atau try outUN serta binaan khusus yang kita sebut SMS (Smamda Multi Study) untuk menyiapkan siswa sukses mengikuti UN dan seleksi masuk perguruan tinggi,”terangnya.
Hal berbeda terjadi di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo Hidayat saat dihubungi viatelepon mengaku tidak mengeluarkan SE khusus menyangkut pelaksanaan UN. Bahkan, pihaknya menginstruksikan seluruh siswa agar mengikuti UN. ”Kami wajibkan juga pada siswa untuk ikut, tidak ada pengecualian ”tegasnya. (aan haryono)
Siswa Bakal Tak Bisa Masuk PT
Thursday, 07 January 2010
KEPALA Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya Sahudi ”kebakaran jenggot” ketika mendengar ada sekolah yang tidak mewajibkan siswanya mengikuti UN.
Sebab UN merupakan kewajiban yang berlaku bagi semua sekolah baik sekolah nasional maupun internasional yang masih memakai kurikulum dalam negeri. Sahudi mengatakan,SMA Muhammadiyah 2 memang salah satu dari rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Surabaya. Meskipun begitu, kurikulum yang dipakai tetaplah kurikulum nasional.
”Jadi tidak ada alasan sekolah tidak mewajibkan siswa ikut UN,” ujar Sahudi ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya,tadi malam. Mantan kepala SMAN 15 itu melanjutkan, setiap warga negara yang sekolah wajib mengikuti UN. Semua itu dilakukan untuk pemetaan belajar sekaligus menjadi syarat kelulusan.
”Posisi ini tetap merugikan siswa. Tidak ikut UN bukan jaminan mempermudah siswa dalam memilih, itu malah menjadi bumerang nantinya,”imbuhnya. Pejabat kelahiran Banyuwangi itu juga menegaskan, jika siswa tidak ikut UN, peluang siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (PT) jadi tertutup. Sebab, syarat melanjutkan pendidikan ke PT adalah menunjukan bukti kelulusan dan nilai UN.
”Kami akan memeriksa dan menyelidiki kasus yang dilakukan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya itu,” ungkapnya. Sementara Sekretaris Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim Najib Hamid mengatakan, pihaknya tidak tahu sama sekali tentang adanya aturan di SMA Muhammadiyah 2 yang membebaskan siswanya memilih antara ikut UN atau tidak.
Dia menegaskan, selama ini tidak ada instruksi dari Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Jatim untuk memberikan kebebasan siswa memilih sendiri antara mengikuti UN atau tidak. ”Jadi saya belum tahu sama sekali tentang informasi itu,”ungkapnya. (aan haryono)
Harian Surya :
Aturan SMA Muhammadiyah 2 Pucang, Siswa Bisa Pilih Tak Ikut Unas
Kamis, 7 Januari 2010
SURABAYA-SURYA- Di tengah persiapan dan pro-kontra penyelenggaraan Unas 2009/2010 SMA Mummadiyah 2 berani membuat kebijakan menarik bagi siswa. Sekolah di wilayah Pucang itu membebaskan siswa untuk memilih mengikuti Unas atau tidak.
Kebijakan itu dikeluarkan resmi oleh sekolah dengan menerbitkan surat edaran (SE). Berdasar SE itu, siswa kelas XII dipersilahkan memilih, apakah mengikuti Unas atau tidak. Sekolah mengizinkan siswa memilih tidak mengikuti Unas, asalkan sepengetahuan orangtua.
Wakasek Bidang Kurikulum Munawir menyatakan, SE itu merupakan bentuk antisipasi pihak sekolah. Pihak sekolah tidak menginginkan polemik dan pro-kontra tentang sah dan tidaknya Unas di masyarakat ikut terbawa ke kelas.
SE itu disusun pengurus sekolah berdasarkan rapat bersama. “Unas adalah hak siswa, kami menghargai hak siswa dan wali murid termasuk mereka yang kontra Unas, karena itulah dibuat surat edaran itu ,” ujar Munawir. Karenanya, wali murid diminta membuat surat pernyataan siap mengikuti Unas atau tidak. Siswa dan wali murid juga diberi penjelasan konsekuensinya.
Tapi, sejak dikeluarkan SE itu, hingga Rabu (6/1) tidak ada siswa dan wali murid yang membuat pernyataan tidak mengikuti Unas. “Mungkin mereka tahu jika tidak Unas konsekuensi terbesar ya tidak lulus,” ungkap Munawir.
Sesuai aturan, di SMA Muhammadiyah 2 Unas menjadi salah satu syarat kelulusan sekolah. Selain nilai Unas dan nilai-nilai ulangan, sekolah berstatus RSBI itu juga menempatkan ujian Muhammadiyah sebagai bagian dari persyaratan kelulusan. Ujian Muhammadiyah merupakan ujian khusus yang dibuat internal lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Kadindik Surabaya Sahudi menjelaskan, Unas merupakan salah satu syarat kelulusan sekolah. Terlepas dari proses hukum tentang tuntutan masyarakat pada penyelenggara Unas, pelaksanaan Unas tahun ini sudah berjalan sesuai Permendiknas. “Syarat kelulusan sekolah sudah diatur dalam Permendiknas. Jika tidak mengikuti Unas, tentu saja nilai Unas siswa bersangkutan tidak ada, meskipun nilai Unas bukan satu-satunya pertimbangan kelulusan,” ujar Sahudi.
Mantan Kasek SMAN 15 itu berharap sekolah dan siswa saat ini lebih berkosentrasi menghadapai Unas daripada ikut berpolemik menentang Unas atau tidak. rey