Green Blue Red
first
  
last
 
 
start
stop

SMAMDA Surabaya Juara 1 Baca Berita

PDFCetakSurel

SURABAYA - Suasana grand final Lomba Baca Berita (LBB) Safari Diklat Jurnalistik kemarin (31/12) berlangsung seru. Sebanyak 39 peserta tampil. Seorang peserta sakit dan mengundurkan diri.

Masing-masing peserta pun berusaha tampil maksimal untuk menjadi yang terbaik. Tidak hanya dari segi pelafalan dalam membaca berita, tapi juga penampilannya. Pada lomba itu, siswa SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menjadi jawara.

Mayoritas peserta wanita mengenakan kemeja yang dipadu blazer dan celana kain senada. Yang laki-laki memakai jas dan celana kain lengkap dengan sepatu pantofel. Namun, ada pula yang berpakaian lain.

Misalnya, berbaju batik atau kebaya tradisional. Salah satunya adalah Sumarlina, siswi SMAN 1 Wringinanom, Gresik. Dia mengenakan kebaya lengkap dengan aksesorinya.

"Presenter kan tidak selalu harus dengan blazer. Sekali-sekali menggunakan baju tradisional kan bisa. Ini sekaligus untuk melestarikan budaya kita," ujarnya.

Persaingan peserta tidak hanya soal baju. Persaingan terbesar tentu penampilan di panggung. Seluruh peserta menyatakan cukup grogi saat panitia melakukan brifing dan latihan awal. Saat brifing, peserta diajak melihat dan mencoba sesaat "kursi panas" pembaca berita tempat mereka praktik sebagai presenter.

Grand final LBB memang berbeda dari LBB di sekolah saat seleksi awal dulu. Di LBB sekolah, siswa hanya perlu membaca tulisan tidak bergerak yang disediakan panitia. Nah, pada grand final kemarin, seluruhnya dirancang seperti presenter betulan.

Masing-masing peserta harus membaca berita di lantai 2 studio berita JTV. Tidak cukup sampai di situ, seluruh peserta dan panitia yang berjumlah puluhan melihat secara langsung. Teks yang digunakan juga berupa tulisan yang bergerak. Seluruhnya direkam.

Juri dalam grand final itu juga berbeda dari juri sebelumnya. Ada dua juri yang menilai. Keduanya adalah presenter JTV. Yaitu, Emil Faiza, presenter Pojok 7 dan dialog khusus. Yang kedua adalah Nadia Zahara yang juga menggawangi Pojok 7 dan Jatim Awan.

Tak ayal, acara grand final tersebut membuat masing-masing peserta keder. Yully Chintya F., misalnya. Siswi asal SMK Pemuda Krian, Sidoarjo, itu tampak berkomat-kamit menghafalkan naskah sebelum tampil. Dia juga berkali-kali membetulkan blazer-nya agar tidak menceng.

Saat namanya dipanggil, gadis berjilbab itu langsung menarik napas panjang agar tidak gugup. "Ini kan baru kali pertama. Jadi deg-degan banget. Tapi, karena saya ingin jadi presenter, jadi ya dicoba saja," ujarnya setelah tampil.

Meski yang dibaca adalah berita kecelakaan, ekspresi dan tampilan masing-masing peserta bermacam-macam. Ada yang memang membaca layaknya presenter berita, ada pula yang seperti presenter infotainment.

Salah seorang peserta, Ellya Paramanandana dari SMAN 8 Surabaya, malah membaca berita seperti presenter Pojok Kampung. Meski teks yang diberikan menggunakan bahasa Indonesia, dia membacanya dalam bahasa Jawa. Ellya langsung menerjemahkan teks berita yang disediakan. "Saya ingin tampil beda saja. Ini latihannya juga baru di sini tadi," ungkapnya.

Setelah seluruh peserta membaca berita, mereka mendapat pengarahan dari kedua juri tentang cara menjadi presenter yang baik. Salah satunya, harus menampilkan mimik wajah yang sesuai dengan berita yang dibaca. "Jadi, kalau berita duka, ya saat membawakan beritanya jangan dengan mimik bahagia, apalagi sambil terse­nyum," jelas Emil Faiza. "Bisa-bisa nanti keluarganya marah, kita dikira mengejek," tambahnya.

LBB itu akhirnya dimenangi Danan Prima Nanda dari SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Peringkat kedua diraih Titis Catur Purnamasari dari SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Peringkat ketiga diraih Muhammad Dheri Maulana Akbar dari SMPN 1 Candi, Sidoarjo.

Selain grand final LBB, kemarin berlangsung acara diklat jurnalistik susulan. Yaitu, diklat penulisan opini untuk guru-guru yang menjadi panitia selama acara Safari Diklat Jurnalistik di sekolah masing-masing. Ada 58 guru dari 40 sekolah peserta yang mengikuti diklat tersebut.

"Saya tidak menyangka bisa berkesempatan ikut diklat ini karena dulu awalnya tidak ada aturan bahwa panitia bisa ikut diklat susulan," ujar Imam Jawahir, salah se­orang peserta dari SMK Antartika 2.

Saat acara Safari Diklat Jurnalistik berlangsung, guru kimia itu sebenarnya ingin mengikuti diklat penulisan opini. Namun, sekolah membutuhkan tenaganya untuk mengurus acara unjuk kreasi kebahasaan dan kesastraan yang berlangsung di luar ruangan.

Otomatis, mau tidak mau dia harus merelakan tidak ikut diklat. Karena itulah, saat ada kesempatan diklat susulan ini, Imam langsung mendaftar. "Saya belajar banyak dari sini," tegasnya.

Acara Program Safari Diklat Jurnalistik tidak hanya berhenti sampai di situ. Puncak program tersebut dilakukan pada Sabtu nanti (2/01). Seluruh undangan, termasuk 40 kepala sekolah peserta Safari dan guru-guru peserta diklat, diminta datang sebelum acara berlangsung untuk menjalani registrasi. Acara dimulai pukul 08.00. Dalam acara yang bakal diliput dan ditayangkan oleh JTV tersebut, undangan diminta untuk mengenakan baju batik. (sha/dos)

 

Written by :
arul
 

Add comment


Security code
Refresh